Selasa, 31 Agustus 2010

DAURAH ILMIAH GURU DAN KARYAWAN SDIT NUR HIDAYAH SURAKARTA


Hari Selasa, 31 Agustus 2010 SDIT Nur Hidayah menggelar acara "DAURAH ILMIAH SEHARI" untuk seluruh guru dan karyawan. Daurah Ilmiah Sehari ini dimulai sekitar pukul 08.00 hingga berbuka puasa bersama dan diakhiri dengan sholat berjamaah di masjid sekolah setempat. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 90 orang yang terdiri dari para pimpinan sekolah, para guru serta karyawan SDIT Nur Hidayah.

Agenda Daurah Ilmiah Sehari ini meliputi ceramah dan dialog di sesi pertama, yang menampilkan pembicara Ustadz Dr. Mu'inudinnillah Basri, MA (Direktur dan Dosen Paska Sarjana UMS) dengan materi "Membangun Pertahanan Diri". Karomah yang terbaik bukanlah orang yang mampu terbang seperti pesawat terbang tetapi orang yang istiqomah dalam amal kebaikan hingga akhir hayatnya.

Allah berikan taufik kepada orang yang istiqomah dalam amal kebaikan. Alangkah indahnya akhir hayat kita saat kita melakukan ketaatan, saat kita sedang sujud, saat kita sedang ceramah. Jadi akhir hayat seseorang itu sangat tergantung pada kebiasaan sehari-harinya. Istiqomah memang sangat berat. Pertahanan diri dalam menghadapi godaan sangat penting. Ada banyak serangan-serangan yang akan menguji pertahanan diri kita antara lain shahwat, pemikiran-pemikiran sekuler, kekuasaan, popularitas, wanita, dan lain-lain.

Disesi kedua Ustadz Drs. Amin Wahyudi, M.M, yang saat ini menjadi Pembantu Rektor Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta, menyampaikan materinya dengan tema "Pendidikan dalam Perspektif Sirah". Dalam paparannya tentang "Urgensi Tarbiyah dalam Tinjauan Sirah", beliau mengawalinya dengan keteladanan para sahabat dengan prestasi tertinggi amaliyah da'wah islamiyah. Abu Bakar Ash Shidiq yang menginfaq-an seluruh hartanya untuk perjuangan da'wah islam, dan seorang sahabat Usman Bin Afan yang menginfaq-an setengah hartanya untuk perjalanan da'wah Islam ini. Inilah generasi robbaniyun yang menjadi pelaku tarbiyah yang sangat penting dalam membetuk karakter manusia.

Hancurnya sebuah negara atau suatu lembaga/instasi tidak lain karena hancurnya para pemimpin dan orang-orang yang ada didalamnya. Surat Al-Isra ayat 16 ; "Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar mentaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan didalam negeri itu, maka sepantasnyalah berlakulah terhadapnya perkataan (hukum Kami) kemudian Kami binasakan sama sekali negeri itu".

Maka tugas tarbiyah atau pendidikan inilah untuk melahirkan pemimpin-pemimpin yang menjalankan amanah agama ini. Karena hancurnya suatu negeri adalah ke-ingkarannya para pemimpin dan para penduduknya terhadap nikmat Allah (kufur nikmat).

Beliau mengakhiri paparannya dengan visi besar yang menembus batas, sebagaimana Allah berfirman dalam Alqur'an Surat Al-Ankabut ayat 64 " Dan kehidupan di dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akherat itulah kehidupan yang sebenarnya sekiranya mereka mengetahui". Inilah Visi Akhir dari seorang mu'min sejati.

Setelah sesi kedua berakhir, dipersilahkan kepada para guru dan karyawan pulang kerumah masing-masing dan mengajak seluruh anggota keluarganya untuk mengikuti sesi ketiga atau yang terakhir. Sesi ketiga ini sangat "pas/cocok" membahas tentang bagaimana strategi membangun keluarga yang harmonis yang akan dipaparkan oleh para praktisi yang cukup berpengalaman.

Dan di sesi terakhir, ada dua pembicara yang hadir mempresentasikan tema tentang "Membangun Keluarga Harmonis" yaitu dr. Aris Surawan dan dr. Marjati.

Kesempatan pertama diberikan kepada dr. Aris Surawan membuka sesi ketiga dengan salam hangat kekeluargaan karena beliau memang masih menjadi salah satu orang tua murid SDIT Nur Hidayah. Kedua pembicara yang sama-sama dokter ini, merupakan pasangan harmonis sehingga tidak salah kalau keduanya menjadi pembicara pada tema kali ini.

Dr. Marijati yang juga sebagai istri dari dr. Aris Surawan ini, menegaskan bahwa keluarga yang harmonis menjadi pondasi bagi terbentuknya masyarakat yang harmonis dan juga negara yang harmonis pula. Sehingga harapannya kita ingin mengembalikan kejayaan islam melalui jalan pertama yakni pembentukkan keluarga terlebih dahulu.

Prinsip yang harus dipegang dalam mengatasi permasalahan terlebih dahulu yaitu bahwa kita harus berusaha "bersih" lebih dahulu. Artinya bahwa bukan berarti kita tidak punya masalah sama sekali, tetapi yang lebih penting adalah berusaha memecahkan masalahnya bukan mempermasalahkan masalah yang sedang terjadi.

Nah, yang paling menarik adalah ketika beliau membuat survei dan simulasi berupa "game" atau "permainan" tentang berbagai masalah dalam keluarga. Ada sejumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta dauroh kemudian ditulis pada secarik kertas. Jawaban dari para peserta dauroh ini kemudian ditempel di dinding. Kemudian secara acak dibahas satu persatu oleh pembicara.

Berikut pertanyaan-pertanyaannya :

1. Masalah yang sering bikin konflik di rumah (anak, kerja, ekonomi).
2. Berapa frekwensi bertengkar hebat di rumah ? (1X /tahun,bulan, pekan dll)
3. Apa yang paling anda tidak suka dari pasangan anda ?
4. Kalau anda kecewa dengan pasangan, apa yang anda lakukan ?
(diam,marah,pergi,makan,ngomel,ngamuk)
5. Apa yang tidak disukai bekerja di SDIT ?
6. Apa yang membuat suka dan bertahan ?

Dari survei diketahui bahwa data-data tersebut menjadi modal awal untuk melihat dan menganalisis apa sesungguhnya masalahnya yang sebenarnya. Kemudian berusaha untuk memecahkan masalah dengan bermusyawarah. Berusaha untuk memaafkan kesalahan dan kekurangan.

Bagaimana cara mengatasi berbagai masalah dalam keluarga ? Dr. Aris Surawan berkaca pada para ulama bagaimana mereka mengatasi permasalahannya.

Kunci pertama yaitu Mahabah/Cinta. Cinta menjadi kekuatan dan modal yang luar biasa.
Kunci Kedua yaitu Perhatian. Bagaimana cara kita memanggil istri datau suami...?
Seringkah kita menanyakan tentang : bagaimana kerja seharian di kantor ?
Kunci Ketiga yaitu Komunikasi yang Efektif. Sering kali jika sudah lama "menikah", banyak miskomunikasi.
Kunci Keempat yaitu Syuro atau Musyawarah.

Kesimpulannya yaitu CINTA PKS : 1. CINTA, 2. PERHATIAN, 3. KOMUNIKASI, 4. SYURO

Menjelang berbuka puasa Ketua Dewan Pembina Yayasan Nur Hidayah Bapak H. Siswo Oetomo menyampaikan pengalamannya "trik dalam mengatasi permasalahan dalam keluarga" yaitu "ambil air wudlu" dan ber"rangkulan" itu merupakan tanda ishlah antara suami dan istri. Amin. Luar biasa, mudah-mudahan ini bisa menjadi salah satu cara jitu menyelesaikan permasalahan keluarga. Jazakallah atas sharing dan berbagi pengalamannya mudah-mudahan bisa menjadi solusi bagi kita.

Usai paparan sesi ketiga ini, diakhiri dengan berbuka puasa bersama dan menunaikan sholat magrib secara berjamaah.

Selamat Ber"I'TIKAF" di masjidnya masing-masing. Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita semua grand prize "LAILATUL QODAR". Amin .... Ya Rabbal 'Alamin.

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook

0 Comments:

Posting Komentar

Buku Tamu


ShoutMix chat widget
 

SDIT Nur Hidayah Copyright © 2010 SDIT NH is Designed by Choirul Fata