Senin, 21 Juni 2010

WAKTU DALAM KEHIDUPAN MUSLIM


Sekarang ini sedang demam piala dunia. Dimana-mana ada pembicaraan tentang piala dunia. Di televisi, di koran, di hik (warung remang-remang), di terminal, di tempat kerja, di sekolah, dll baik di kalangan orang tua, orang muda, ABG, bahkan anak-anak. Saking asyiknya sehingga lupa waktu. Lupa sholat, lupa belajar, lupa makan, dan lupa kewajiban yang lain.

Ada yang mencoba menghitung-hitung untuk apa saja dan berapa lama kegiatan yang dilakukan manusia dewasa. Ternyata rata-rata usia yang dihabiskan seorang dewasa sangat tidak efektif dan efisien dilihat dari sudut pandang ajaran agama Islam. Yaitu : tidur 24 tahun, bekerja 11 tahun, bermain dan berekreasi 6 tahun, makan 6 tahun, berpakaian dan berdandan 5,5 tahun, shalat 2 tahun, lain-lain 0,5 tahun.
Fenomena-fenomena di atas paling tidak menunjukkan kekurangberhasilan manusia memanfaatkan waktu secara optimal. Padahal waktu adalah salah satu karunia Allah yang penting. Pada permulaan beberapa surat Makkiyah yang ada di dalam Al-Qur’an, Allah SWT bersumpah dengan beberapa jenis waktu, misalnya : Demi waktu ’ashar, Demi waktu dhuha, Demi malam apabila menutupi cahaya siang dan siang apabila terang benderang, Demi fajar dan malam yang sepuluh, dst. Menurut pendapat ahli tafsir, apabila Allah SWT bersumpah dengan suatu ciptaan-Nya, hal itu Dia lakukan untuk membuat pandangan manusia tertuju kepadanya dan mengingatkan manusia akan arti pentingnya.

Di dalam Surat Al-Furqon ayat 6 disampaikan : ”Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur”. Dan dalam hadits Rasulullah SAW tentang urgensi waktu dan keharusan untuk mengoptimalkan penggunaannya. Dari Mu’adz bin Jabal, bersabda Rasulullah SAW : ”Tidak akan tergelincir (binasa) kedua kaki seorang hamba di hari kiamat, hingga ditanyakan kepadanya empat perkara : usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya bagaimana ia pergunakan, hartanya darimana ia dapatkan dan pada siapa ia keluarkan, serta ilmunya dan apa-apa yang ia perbuat dengannya”. (H.R. Bazzar dan Thabrani).

Jika kita amati dan renungkan dengan teliti, maka akan nyatalah bahwa ajaran Islam sarat dengan ibadah-ibadah mahdhah (ibadah khusus) yang juga berfungsi melatih seorang muslim untuk selalu memperhatikan dan mewaspadai waktu.. Hari seorang muslim dimulai ketika muadzin mengumandangkan adzan shubuh. Muslim yang bersih hatinya akan menyambut seruan itu dengan segera berwudhu dan menunaikan sholat shubuh, karena dengan itu terputuslah ikatan syaitan. Hari seorang muslim juga ditutup dengan sholat yaitu sholat ’isya. Di antara kedua sholat tersebut paling tidak tiga kali seorang muslim mengambil jeda dari aktifitasnya, bersimpuh di hadapan Allah SWT, bermunajat memohon kasih-Nya, lewat ruku’ dan sujud, agar tak lebur dalam lautan materi dan keduniaan.

Sepekan sekali kita berjumpa dengan sholat Jum’at. Selain sholat wajib dan sholat Jum’at masih dilengkapi lagi dengan sejumlah sholat sunah, antara lain rowatib, dhuha, dan tahajud, yang merupakan pengisi terbaik helaan nafas seorang mu’min.
Perhatikanlah betapa setiap ibadah memiliki waktu tersendiri. Bukankah ini suatu sinyal dari Allah agar kita mewaspadai waktu. Masihkah kita berani melalaikannya ? Kita juga tidak tahu kapan ujung usia kita ? Bisa berpuluh-puluh tahun lagi,bisa tahun depan, bisa besok pagi, bisa pula malam ini. Jika kita tidur malam ini adakah yang bisa menjamin bahwa esok pagi kita masih sempat bangkit kembali ? Jika kita hidup hari ini, belajar, bekerja, bersenda gurau, adakah yang bisa menjamin bahwa tidak hari ini Izroil datang membawa perintah Allah SWT untuk memanggil kita. Wallahu a’lam !

Jika kita sadar bahwa waktu adalah nikmat yang besar dari Allah SWT, tentunya kita pun akan sadar bahwa kita harus mensyukurinya. Manifestasi dari syukur paling tidak adalah memanfaatkannya sesuai dengan kehendak pemberinya yaitu Allah SWT. Tidak pada tempatnya kita mengabaikan kewajiban-kewajiban kita terhadap waktu. Karena jika hal itu kita lakukan, maka waktu pun akan mengabaikan kita, dan jadilah kita ampas zaman yang tidak punya nilai apa-apa. Adapun kewajiban muslim terhadap waktu adalah :

1. Menjaga manfaat waktu dan tidak menyia-nyiakannya.
Sebelum kita berangkat tidur, sebelum bibir kita mengicapkan doa, cobalah kita bermuhasabah. ”Hisablah dirimu sebelum tiba waktunya engkau dihisab”(Umar bin Khottob). Berapa persen waktu kita hari ini yang termanfaatkan dan berapa persen pula yang sia-sia ? Berapa persen yang terisi aktifitas yang semakin mendekatkan diri kita kepada Allah SWT, dan berapa persen pula yang justru menjauhkan kita dari-Nya ? Berapa persen yang dapat menjadi bekal meraih kegemilangan masa depan dan berapa persen pula yang malah menyuramkannya ?

2. Mengisi kekosongan (waktu luang)
Dalam hadits disampaikan : Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda : ”Dua nikmat Allah yang tertipu oleh kebanyakan manusia yaitu nikmat sehat dan waktu luang”. Waktu luang bisa melenakan manusia sehingga muncul kerusakan dan kemudharatan. Banyak orang terlibat menjadi ’majelis pergunjingan, ghibah, dan fitnah’. Banyak tawuran antar pelajar di berbagai kota besar. Tempat-tempat hiburan banyak menjurus ke arah arena maksiat, seperti bar, diskotik, dan sejenisnya setiap malam dipenuhi manusia. Hiburan anak-anak bahkan orang dewasa seperti Play Station, game on line, warnet dipenuhi pengunjung. Banyak pemuda yang mengisi waktunya dengan kongkow sambil main gitar dan main kartu, bahkan mabuk-mabukan. Masya Allah !

3. Mengatur waktu.
Gunakan skala prioritas dalam melaksanakan atau menyelesaikan pekerjaan. Bila perlu buatlah jadwal. Hindari menunda pekerjaan, karena besok sudah menanti pekerjaan yang lain. Sesibuk apapun kita dengan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga ataupun pekerjaan kantor, jangan sampai melupakan amalan-amalan yang bisa meningkatkan keimanan kita.

4. Berlomba-lomba dalam kebaikan.
Mu’min sejati menyadari bahwa barang perniagaan Allah SWT yaitu surga, tidaklah murah harganya. Untuk meraih kemuliaan itu tidak ada jalan lain kecuali berlomba-lomba dalam kebaikan. Setiap waktu adalah kesempatan untuk meraih pahala. Sehingga waktu-waktu tidak dilewatkan hanya untuk kegiatan yang tidak ada manfaatnya. Hal berikut patut kita renungkan, kalaulah Allah memanggil kita saat ini, sudah cukupkah bekal ? Kalaulah langkah sudah sampai di pinggir ajal, sudah rampungkah bangunan rumah akhirat ? Kalaulah penghabisan nafas sudah nyaris doihembuskan, telah cukupkah pahala manakala Allah masih menyisakan sedikit usia ?

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook

0 Comments:

Posting Komentar

Buku Tamu


ShoutMix chat widget
 

SDIT Nur Hidayah Copyright © 2010 SDIT NH is Designed by Choirul Fata