Banyak merenung itulah ciri orang yang beriman dan berakal. Ia banyak berdzikir dan berpikir dalam banyak hal, dan tidak pernah meremehkan apapun yang diciptakan Allah SWT. Al-Qur’an menyebutkannya sebagai :
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari api neraka.” (Q.S. Ali Imron : 191).
Dalam sebuah doa, “Ya Allah, perlihatkanlah kepadaku segala sesuatu sebagaimana adanya.” Ungkapan ini tentu sangat bijak. Sebab kebanyakan kita terkadang melihat sesuatu bukan pada hakekat sebenarnya, tidak menempatkannya sebagai sesuatu yang penting dalam hidup ini. Panca indra dan akal kita hanya mampu melihat sesuatu dari sisi lahirnya saja. Jika secara fisik kita melihatnya sepele, maka kita pun menyikapinya dengan sepele.
Berikut hal-hal yang dapat kita lakukan untuk mempertajam kesadaran kita dengan melatih diri melihat hal-hal yang sepele.
1. Cari dan carilah kebaikan dari mana saja.
Kebaikan telah Allah tebarkan di muka bumi ini. Tugas kita mencari kebaikan-kebaikan itu dengan tidak mengabaikan apapun yang mungkin menurut kita sepele. Sebab, boleh jadi dari hal-hal sepele itulah Allah akan membagikan keutamaan-keutamaan-Nya, yang dengan itu akan tampak perbedaan kualitas iman, ibadah, produktifitas amal, dan ilmu dari masing-masing hamba-Nya. Tentunya kita masih ingat kisah tentang wanita yang diadzab oleh Allah karena menyiksa kucing, dan wanita yang mendapatkan balasan kebaikan karena memberi minum seekor anjing. Contoh lain memungut bungkus makanan dan minuman yang berserakan dan membuang ke tempat sampah.
2. Pikirkanlah segala sesuatu yang kita lihat, sekecil apapun.
Sepele di mata kita belum tentu sepele di hadapan Allah. Dan di hadapan Allah memang tidak ada yang sepele. Semua yang diciptakan Allah mengandung makna, hikmah, dan pelajaran. Tidak ada yang sia-sia. Hanya kita yang terkadang tidak mampu menggunakan akal dan pikiran secara baik.
3. Tidak menyepelekan orang-orang yang dianggap sepele.
Orang miskin, orang cacat, orang yang kurang cerdas biasanya disepelekan orang. Mereka tidak diberi kesempatan untuk berpendapat atau berkarya. Dan biasanya mereka terpinggirkan, seolah-olah keberadaan mereka tidak bermakna. Banyak di antara kita yang mengambil jarak terhadap mereka. Padahal kalau kita mau berpikir, mereka juga hamba Allah, sama seperti kita, mereka juga punya hak untuk meraih kemuliaan di sisi Allah. Justru keberadaan mereka bisa menjadi lahan kita untuk bisa meraih pahala. Kita punya kelebihan harta, bisa kita shodaqohkan pada orang miskin. Kita punya potensi secara fisik, bisa untuk membantu mereka yang cacat. Kita punya otak yang cemerlang bisa membantu mereka yang kesulitan dalam pemecahan masalah. Sosok yang perlu kita teladani di antaranya adalah Umar bin Khothob. Semasa beliau menjadi pemimpin (kholifah), beliau sangat memperhatikan orang miskin, bahkan beliau langsung terjun menangani kemiskinan, juga beliau mau menerima kritikan dari rakyatnya.
4. Berhentilah menyepelekan, apalagi terhadap dosa.
Menyepelekan perkara kecil adalah hal yang biasa bagi kita. Misalnya menceritakan aib orang atau bahasa Jawanya ”ngrasani”, menikmati acara TV atau video yang mengumbar aurat dan menampilkan perilaku pergaulan bebas, meminjam tidak dengan ijin (diistilahkan dengan ”gosop”), menyontek dalam ulangan atau ujian, menyepelekan thoharoh (biasanya orang tua yang punya anak kecil yang masih suka ngompol), menyepelekan bid’ah, dll. Sikap dan perilaku tersebut, jika dibiarkan terus-menerus bukan tidak mungkin akan menjadi kebiasaan yang akan melahirkan dosa-dosa yang lebih berat. Karena kesalahan yang kita lakukan dengan sadar dan disepelekan, akan mendatangkan kesalahan-kesalahan berikutnya yang merupakan warisan dari kesalahan pertama.
Mari kita coba untuk mengubah paradigma berpikir, dengan tidak menyepelekan hal-hal yang dipandang sepele. Mari kita berusaha mempertajam kesadaran kita dengan melatih hal-hal sepele sebagai sesuatu yang berharga dan bernilai. Sehingga dari sesuatu yang sederhana kita mendapatkan manfaat yang besar. (Dipetik oleh Ari Puspitowati, S.Pd dari Majalah Tarbawi Edisi 119 Bulan November 2005)
Browse: Home > MEMETIK HIKMAH DARI SESUATU YANG DIANGGAP SEPELE
Selasa, 13 April 2010
MEMETIK HIKMAH DARI SESUATU YANG DIANGGAP SEPELE
Label: Artikel Guru







0 Comments:
Posting Komentar